Feeds:
Posts
Comments

Nostalgia 3.

Tahun 199   , kebun digunakan untuk peternakan ayam.  Proyek papa.  Papa juga sempat tinggal di kebun.  Menjaga ayam.  Papa berbisnis ayam beku.  Setelah beberapa kali panen, papa pensiun beternak ayam.  Cape, katanya.  Papa sudah tambah umur.  Mama juga.

Mengenai panggilan itu, mama dan papa.  Keenam anak ini berevolusi.  Ada yang memanggil bapak – ibu, ada yang tetap memanggil mama – papa.  Misbah dan Muna, memanggil mereka mama dan papa.  Syam, Ning, Iyah dan Ari panggil bapak dan ibu.  Mungkin baru menemukan kata yang pas ketika sudah dewasa.

Kebun juga pernah dijadikan peternakan cacing oleh papa.  Waktu itu sedang booming, tapi dengan ending yang menyedihkan karena semua orang beternak cacing – wuih, cacing papaku gemuk-gemuk – tidak ada yang mau menampungnya.  Terlalu banyak.  Kata papa, ini politik orang dagang.  Sebenarnya kebutuhan pabrik-pabrik kosmetik dan obat akan produk-produk dari bahan cacing tidak sebanyak itu, tapi dibuat public image kalau kebutuhannya sangat besar.  Bagaimana nasib cacing-cacing itu?  Mereka dilepas di kebun.  Hitung-hitung buat penyubur tanah.  He he…

Dahulu Sangat…..

Nostalgia 3.

Setiap ke kebun, mama – dahulu, kami semua memanggilnya begitu – selalu bawa banyak bekal, karena kami, anaknya semua berjumlah enam, doyan makan semua. Tapi yang tidak pernah ketinggalan : nasi padang. Sedap sekali menyantap nasi padang di kebun yang anginnya semilir.

Biasanya, kami ke kebun pada saat jalan sedang kering. Tapi pernah kami ke sana dengan jip pada musim hujan. Dulu belum ada jalan aspal di dekat kebun. Kalau musim hujan begini, jalan berubah menjadi lumpur. Dan misbah bersikeras mendekatkan mobil jip ke kebun. Akibatnya, si Macho (nama mobil itu) tergelincir ke selokan. Itulah kalau tidak mengindahkan kata orang tua. Tapi si Macho selamat juga setelah terpeleset-peleset di jalan begitu.

Waktu itu penjaga kebun sudah ganti. Mang Uki. Ia tinggal dekat kebun. Kebun juga bertambah luas karena papa membeli tanah di sebelah yang ada rumahnya. Jadi, lengkaplah kebun itu. Ada tempat untuk lyeh-leyeh, dan ada sumur untuk cuci-cuci.

Sejak itu, sertifikat kebun itu menjadi dua…..

Nostalgia 2.

Sebenarnya ini Nostalgia 5, tapi berdasarkan permintaan spesifikasi kebun, kami jadikan Nostalgia 2.

Nama Kampung Cinyosog baru kuketahui belakangan.  Yang terkenal desanya, Burangkeng, Kecamatan Setu.  Kalau masih belum tahu juga, lokasinya di dekat TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Bantar Gebang.  Kalau masih belum jelas juga, patokannya Pusdiklat DLLAJ, jalaaaaaaan terus karena masih jauh, lewat Pasar Setu, masih terus, ada pertigaan dengan patung duren di tengahnya, masih terus sedikit lagi.  Masuk ke jalan menuju Kantor Desa Burangkeng, belok kiri, dan masuk sedikit.  Ada jalan desa di depan gerbang.  Sampai deeeh di kebun.

Kebun ini luasnya 3275 m persegi.  Ada rumah sederhana, listrik 450 watt.  Ada sumur pompa.  Dijual dengan harga nego Rp. 100.000/m persegi.  Atau disewakan dengan perhitungan kemudian, sebagian atau seluruhnya.  Ada sekitar 30 pohon rambutan yang masih produktif, pohon kecapi, pohon bambu, dan kelapa.  Tanahnya merah.

Kebun ini cocok untuk investasi karena akan dibangun jalan lingkar luar II.  Bisa untuk peternakan sapi, kambing, ayam.  Atau bisa dibangun kontrakan sederhana.  Atau bisa untuk sekolah, pesantren, atau mesjid karena di dekatnya sedang dibangun komplek perumahan.  Selama ini lebih sering diperuntukkan sebagai tempat istirahat dan wisata kebun rambutan.

Atau teman-teman Ari dan Arijoga yang bule mau kemping di sini, boleh jugaaaaa. Hehe.

Nostalgia 1.

Dahulu sekali, tahun 1992, ketika kami – anak-anak Pak Saudin – masih bujang-bujang dan gadis-gadis, setiap musim rambutan tak pernah terlewatkan waktu untuk ke kebun papa – dahulu, kami semua memanggilnya begitu – untuk menjarah rambutan, duku dan durian.

Dahulu, buah-buahan itu panen bersamaan. Sebenarnya kata ‘menjarah’, tidak tepat. Karena yang sesungguhnya, kami menunggu di bawah, sementara Mang Elly (penjaga kebun pertama) memetikkan rambutan. Hehe… Kami tidak pernah diajarkan cara memanjat ala bajing seperti itu. Yang kami bisa petik, hanya pada dahan-dahan yang rendah. Berteriak-teriak seperti lutung (yang tidak bisa memanjat), berseru-seru di sana yang merah, di situ yang merah.

Misbah – kakak sulung kami – penasaran memanjat pohon duku. Tidak hanya duku yang ia dapat, tapi dapat bonus semut hitam yang bergerombol, menjelajahi punggungnya. Ha ha! Bentol -bentol. Kata Iyah, mestinya Misbah berkamuflase jadi duku, supaya enggak bentol-bentol.

Pulang kami dengan hati puas. Berkarung-karung rambutan masuk jip hijau. Sepanjang jalan tak henti-hentinya, mulut mencecap rambutan. Dan karena rambutan itu juga bersemut, sepanjang jalan semut-semut itu bergerilya di jok dan plafon, dan di kaki-kaki kami.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.