Nostalgia 3.
Tahun 199 , kebun digunakan untuk peternakan ayam. Proyek papa. Papa juga sempat tinggal di kebun. Menjaga ayam. Papa berbisnis ayam beku. Setelah beberapa kali panen, papa pensiun beternak ayam. Cape, katanya. Papa sudah tambah umur. Mama juga.
Mengenai panggilan itu, mama dan papa. Keenam anak ini berevolusi. Ada yang memanggil bapak – ibu, ada yang tetap memanggil mama – papa. Misbah dan Muna, memanggil mereka mama dan papa. Syam, Ning, Iyah dan Ari panggil bapak dan ibu. Mungkin baru menemukan kata yang pas ketika sudah dewasa.
Kebun juga pernah dijadikan peternakan cacing oleh papa. Waktu itu sedang booming, tapi dengan ending yang menyedihkan karena semua orang beternak cacing – wuih, cacing papaku gemuk-gemuk – tidak ada yang mau menampungnya. Terlalu banyak. Kata papa, ini politik orang dagang. Sebenarnya kebutuhan pabrik-pabrik kosmetik dan obat akan produk-produk dari bahan cacing tidak sebanyak itu, tapi dibuat public image kalau kebutuhannya sangat besar. Bagaimana nasib cacing-cacing itu? Mereka dilepas di kebun. Hitung-hitung buat penyubur tanah. He he…